Mengenal JPA

  1. JARINGAN PELAYANAN ANAK (JPA)
adalah sebuah jaringan yang terlibat aktif dalam membangkitkan gerakan pelayanan anak.JPA bersifat non profit serta membangun kebersamaan dan memperkuat jejaringantar lembaga/yayasan/gereja untuk memajukan pelayanan anak di Indonesia.. Dalam melaksanakan pelayanannya, acara JPA tidak hanya diperuntukkan bagi satu gereja/lembaga/yayasan melainkan menjangkau banyak peserta dari berbagai denominasi atau komunitas bagi kepentingan kemajuan bersama. Dengan demikian, dalam melaksanakan pelayanannya, JPA bekerja sama dengan mitra JPA (dalam hal ini lembaga/yayasan/gereja yang bergerak dalam bidang pelayanan anak). Lembaga yang telah bermitra dengan JPA, secara bergantian akan dilibatkan untuk melayani, sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang diperlukan oleh tempat yang akan dilayani. Kantor Jaringan Pelayanan Anak: Alamat            : Jl. RP. Soeroso No. 24 Gondangdia, Jakarta Pusat Telepon           : 021 3900 039/Fax 021 392 8921 Email               : jpa_indonesia@yahoo.com FB                   : Jpa Bermitra  
  1. MITRA JARINGAN PELAYANAN ANAK
Mitra pelayanan yang berjejaring dengan Jaringan Pelayanan Anak ada 133 mitra dari berbagai wilayah di Indonesia yang terdiri dari:
  1. Lembaga atau yayasan yang fokus kepada pelayanan anak.
  2. Sinode atau gereja lokal dalam hal ini secara teknis bekerja sama dengan Komisi Pelayanan Anak.
  3. Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang terlibat aktif atau mendukung kemajuan pelayanan anak.
  1. MENGAPA JARINGAN PELAYANAN ANAK
 
  1. Anak memiliki martabat, hormat, dan nilai sebagai hasil pekerjaan tangan Allah sebagai keturunan dari manusia pertama yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:27; 2:7; 9:6; Yak. 3:9).
 
  1. Umat Allah dalam Perjanjian Lama diperintahkan Tuhan untuk mendidik anak, agar sungguh-sungguh mengenal dan taat kepada Allah.  Mereka harus membimbing anak-anak  agar memahami syahadat khusus  sesuai dengan Ulangan 6 : 4-9. Syahadat itu harus diajarkan oleh orangtua dalam berbagai cara dan kesempatan.  Kemudian syahadat itu diterjemahkan   ke dalam kehidupan praktis  sehari - hari, dalam arti taat sepenuhnya kepada Tuhan yang esa. Anak – anak diajar untuk tahu apa konsekwensi logis dari sikap ketaatan, dan apa resiko dari perbuatan memberontak.
   
  1. Selama melayani di dunia, Tuhan Yesus menunjukkan kasihNya yang besar kepada anak-anak melalui beberapa cara: Tuhan Yesus menerima anak-anak (Markus 10:13), Tuhan Yesus menggendong anak-anak (Markus 10:16), Tuhan Yesus menerima ibadah anak-anak (Matius 21:15,16), Tuhan Yesus peduli dengan kebutuhan anak-anak (Yohanes 4:46-54; Markus 5:38-43), Tuhan Yesus tidak ingin jika anak-anak disakiti hatinya (Matius 18:6), Tuhan Yesus tidak menghendaki anak-anak ditolak(Matius 18:5) atau merasa dihina (Matius 18:10), Tuhan Yesus mengundang anak-anak untuk datang kepadaNya (Markus 10:14), Tuhan Yesus ingin anak-anak diselamatkan (Matius 18:11), Tuhan Yesus tidak ingin satu pun darianak-anak terhilang (Matius 18:14).
 
  1. Anak-anak lebih memiliki keterbukaan terhadap Firman Allah dibandingkan dengan orang dewasa. Seorang dewasa harus memiliki sikap seperti anak sebelum ia diselamatkan, tapi seorang anak tetaplah anak, dan Allah akan memakai masa kecil mereka untuk diproses (dari segi kepercayaan, keterbukaan, dan kemanusiaan) kepada Kristus:“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Sorga” (Matius 18:3). “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalannya” (Markus 10:15).
   
  1. Pengajaran Firman Allah memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan anak-anak. Itu sebabnya didiklah seorang anak, maka anda akan memenangkan orang dewasa:
“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Timotius 3:15). “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6).  
  1. Tantangan yang dihadapi anak-anak semakin berat. Iblis berusaha sekuat mungkin menarik anak-anak untuk tidak mengenal Tuhan terlebih hidup bagi kemuliaan-Nya. Saat ini anak diperhadapkan kepada berbagai godaan duniawi yang menghancurkan melalui berbagai kasus seperti: pemberontakan, pornografi, ketergantungan narkoba, pergaulan dan seks bebas, maupun ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sedangkan masalah-masalah yang mengancam anak antara lain: kerusuhan serta konflik antar etnis, perdagangan anak yang bermuara pada pelacuran dan kerja paksa, pendidikan dan kesehatan yang terabaikan, perampasan terhadap hak anak, yang kesemuanya membutuhkan bantuan orang dewasa untuk mengatasinya.
 
  1. Kehadiran beragam pelayanan anak baik yang berasal dari sinode gereja tertentu, yayasan pendidikan dan sosial, maupun dari berbagai lembaga yang memberikan perhatian pada pelayanan anak. Adanya kenyataan bahwa antara lembaga/yayasan/gereja yang masih fokus kepada kepentingan interndan masih kurangnya sinergi satu dengan yang lain. Situasi dan kondisi tersebut membutuhkan kehadiran sebuah jaringan yang dapat memperkuat serta memperluas kerja sama dalam pelayanan anak.
   
  1. VISI, MISI dan TUJUAN JARINGAN PELAYANAN ANAK
Visi JPA: Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus untuk melayani dan menyampaikan kabar baik kepada anak-anak di Indonesia. Misi JPA:
  • Memberikan penyadaran kepada semua komponen yang bersinggungan dengan dunia anak (orangtua, gereja, yayasan, lembaga, pelayanan anak) tentang betapa pentingnya pelayan terhadap anak-anak sebagai generasi masa depan gereja dan bangsa.
  • Membangun serta memperkuat jejaring antar lembaga/yayasan/gereja yang membidangi pelayanan anak di Indonesia.
  • Melaksanakan berbagai kegiatan kebersamaan bagi kemajuan pelayanan anak di Indonesia.Bentuk pelayanan kebersamaan yang dilakukan JPA meliputi: seminar dan lokakarya bagi para guru PAK atau Sekolah Minggu, pembinaan terhadap orangtua atau jemaat tentang pelayanan anak, pelayanan kepada anak melalui Kebaktian Penyegaran Rohani (KPI), retreat, camp, SIL, pelayanan pendampingan belajar, bakti sosial anak, serta berbagai kegiatan yang bersinggungan dengan pelayanan anak.
  • Menyediakan alat bantu bagi anak untuk belajar Firman Tuhan melalui pembuatan dan pendistribusian buku Kisah-kisah Alkitab dalam tiga kategori kelompok usia, dengan harga yang sangat terjangkau dengan maksud agar kabar baik bagi anak-anak semakin tersebar.
  • Menyediakan bahan-bahan pelayanan anak yang bagus dan murah, terutama bagi wilayah yang kurang mampu dan membutuhkan bantuan.
  • Mengelola pusat data dan informasi bagi gerakan berjejaring pelayanan anak untuk mendukung keberadaan jaringan.
                 
  1. PERANGKAT JARINGAN PELAYANAN ANAK
   
  1. Penasihat:
  2. 1.  Bpk. Junius S. (YASTI)
  3. 2. Ibu Krise Gosal  (WASEKUM PGI)
  4. Sekretariat (Staf Full Timer JPA)
  1. Yeni Krismawati
  2. Bona Tonggam Situmeang
  1. Pengurus:
Ketua              : Olga D. Irena (JDA) Wakil               : Ahmad Tabrani (PESAT) Sekretaris        : Yeni Krismawati (JPA) Wakil               : Lita Rihidara (YASTI) Bendahara       : Gina Walewangko (YASTI) Anggota:
  1. Susi Rio Panjaitan (Yayasan Rumah Anak Mandiri)
  2. Arman Widya (Yayasan Komunikasi Bina Kasih)
  3. Jane Irawan (Mailbox Club)
  4. Josua Nababan (HAI Ministry)
  5. Sukirno (ABAR Indonesia)
  6. Juniar Siregar (BPK GM)
  7. Tryanus Taneo (YAPAN)
  8. Donny Han (panggungboneka.com)
  9. Tejo (DPA GBI)
 
  1. JOB DESCRIPTION
 
  1. Penasihat
Memberikan saran kepada staf full timer, pengurus harian, para koordinator kategorial pelayanan, serta tim penulis kisah-kisah Alkitab selama kegiatan atau program Jaringan Pelayanan Anak berlangsung. Nasihat atau saran diberikan pada saat setiap komponen JDA memerlukan atau dapat bersifat sepihak yakni tanpa permintaan.  
  1. Staf Full Timer
  2. Mengkoordinasi kegerakan pelayanan anak di seluruh Indonesia baik secara
momental maupun temporal di bawah koordinasi Jaringan Pelayanan Anak.
  1. Melaksanakan tugas harian atau mengambil langkah-langkah operasional bagi
berlangsungnya Jaringan Pelayanan Anak.
  1. Memberikan informasi kepada seluruh jaringan, tentang berbagai kegiatan yang
perlu diketahui bersama oleh para mitra pelayanan.
  1. Memberikan laporan kegiatan kepada penasihat, pengurus harian, para koordinator
kategorial pelayanan secara berkala berkaitan dengan perkembangan JPA.
  1. Memfasilitasi daerah-daerah yang membutuhkan dukungan pelayanan secara
langsung maupun dukungan berupa materi pembinaan bagi orangtua, guru Sekolah Minggu, guru PAK, dan juga bagi anak.  
  1. Ketua dan Wakil Ketua
  2. Bertanggung jawab memperluas jejaring JPA.
  3. Memfasilitasi penyelenggaraan rapat JPA, Konsultasi, dan berbagai acara yang
diselenggarakan oleh JPA.  
  1. Sekretaris dan Wakil Sekretaris
  2. Bertanggung jawab atas surat-menyurat, baik surat masuk maupun surat keluar.
  3. Bertanggung jawab membuat notulen rapat serta mendistribusikannya kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
  1. Mengkomunikasikan semua informasi penting yang berguna bagi pengembangan
JDA dalam mencapai visi dan misinya.  
  1. Bendahara
  2. Bertanggung jawab menerima dan mengeluarkan uang untuk kepentingan tugas-
tugas operasional JPA.
  1. Bertanggung jawab membukukan setiap pemasukan dan pengeluaran keuangan.
  2. Bertanggung jawab membuat laporan keuangan dan melaporkan pada Penasihat.
 
  1. Anggota Pengurus Harian
  2. Bertanggung jawab memperluas jejaring JPA.
  3. Bertanggung jawab memperkenalkan JPA kepada lembaga/yayasan/gereja agar
mitra JPA bertambah luas dan JPA dapatmenjangkau lebih banyak lagi anak untuk menerima pelayanan.    
  1. Equipping & Training
  2. Bertanggung jawab memberikan pelatihan dan memperlengkapi wilayah-wilayah
yang dilayani oleh JPA, sesuai dengan kebutuhan dan permintaan.
  1. Bertanggung jawab mencari dan mengumpulkan materi berkaitan dengan
pelayanan anak, dalam berbagai bentuk (diktat, buku, audio visual, alat peraga, dll).
  1. Bertanggung jawab memberikan informasi tentang berbagai sumber yang
berhubungan dengan pelayanan anak di Indonesia.  
  1. RAPAT
Merupakan pertemuan yang diselenggarakan baik secara rutin maupun tidak. Fungsi rapat yaitu:
  • Membangun relasi antar penasihat, pengurus, koordinator, dan seluruh anggota JPA agar terbentuk kesatuan yang semakin erat.
  • Membangun komunikasi yang sehat dan semakin dekat antara penasihat, pengurus, koordinator, dan seluruh anggota JPA agar terbentuk kesatuan yang semakin erat.
  • Mengambil keputusan-keputusan yang mendukung pelayanan JDA.
  • Membahas masalah/hambatan/pergumulan dalam operasional JPA.
  • Mengadakan evaluasi terhadap berbagai kegiatan serta perkembangan JPA.
  Jenis Rapat:
  1. Rapat Pleno
Adalah rapat yang diikuti oleh penasihat, pengurus, koordinator bersama dengan utusan setiap lembaga/yayasan/gereja yang bermitra dengan JPA. Rapat Pleno bisa diselenggarakan bersamaan dengan acara Konsultasi Nasional JPA. Tujuan rapat tersebut adalah untuk mendapatkan berbagai masukan dari para lembaga mitra JPA agar dapat memajukan pelayanan anak di Indonesia secara bersama-sama.  
  1. Rapat Besar
Rapat yang khusus diperuntukkan bagi penasihat, pengurus, koordinator, dalam rangka pertanggungjawaban akhir dan sekaligus pemilihan jajaran pengurus yang baru. Diselenggarakan sesuai dengan ketetapan berakhrinya masa jabatan.  
  1. Rapat Pengurus
Merupakan rapat khusus untuk penasihat, pengurus, dan koordinator dalam rangka koordinasi, memberikan laporan kegiatan dan sekaligus sebagai evaluasi. Diadakan tiga bulan sekali atau sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan.  
  1. Rapat Kepanitiaan
Rapat kepanitiaan diselenggarakan berdasarkan kebutuhan jika JPA mempunyai program atau acara tertentu yang membutuhkan kepanitiaan. Rapat dihadiri oleh panitia yang terbentuk.  
  1. SUMBER DANA
JPA memiliki sumber dana untuk mendukung pelayanan operasionalnya dari YASTI (Yayasan Setia Bakti). Adapun ketentuan lain yang berlaku di JPA berkaitan dengan dana adalah sebagai berikut:
  1. Jika ada wilayah yang membutuhkan pelayanan JPA, maka bila kondisi daerah tersebut memungkinkan untuk membiayai seluruh pelayanan (transportasi, konsumsi, akomodasi, viaticum pembicara) maka seluruh keperluan pelayanan menjadi tanggung jawab panitia lokal atau pihak penyelenggara.
  2. Jika kegiatan diselenggarakan di wilayah yang kurang mampu, maka JPA akan memberikan bantuan berupa transportasi bagi pembicara yang diutus. Sedangkan akomodasi dan konsumsi dimohon menjadi tanggung jawab panitia setempat.
  3. Bila panitia penyelenggara memberikan viaticum kepada para pembicara dari lembaga mitra yang diutus mewakili JPA, maka JPA memberikan viaticum tersebut untuk dibagi secara merata sesuai dengan jumlah pembicara yang diutus.
Pengaturan tentang apakah viaticum yang diterima akan diserahkan sepenuhnya kepada lembaga darimana pembicara bernaung, ataukah diberikan kepada pembicara yang diutus tersebut, tergantung kepada kesepakatan intern antara lembaga mitra JPA dengan pembicara yang mewakili tersebut